news
Pejabat, Pakar, dan Tokoh Masyarakat Ungkap Kekhawatiran atas Tantangan Keselamatan di Jakarta
Di tengah banjir yang tak kunjung reda dan penurunan tanah yang terus meningkat, para tokoh utama Jakarta mengungkapkan prioritas dan strategi untuk melindungi warga.
Bagaimana kami menyusun liputan ini

Para pejabat Jakarta, perencana kota, dan tokoh masyarakat berkumpul pekan ini untuk membahas kekhawatiran mendesak seputar keselamatan yang semakin menguat di ibu kota, seiring banjir dan penurunan tanah yang mengancam kawasan padat penduduk. Dalam pernyataan yang disampaikan usai forum keselamatan pada 9 Juli di Balai Kota Jakarta Pusat, para otoritas menyoroti kerentanan infrastruktur dan perlunya respons yang terkoordinasi.
Urgensi yang meningkat ini muncul di tengah musim hujan yang sangat parah tahun ini, dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kenaikan kejadian banjir sebesar 28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Para ahli memperingatkan bahwa penurunan tanah-yang diperparah oleh pengambilan air tanah berlebihan di Jakarta Utara-memperburuk risiko banjir di kota ini dan mengancam kawasan permukiman.
Dampak Lokal dan Langkah-Langkah Pemerintah
Kecamatan Penjaringan dan Koja, yang terletak di sepanjang pesisir utara Jakarta, termasuk yang paling terdampak oleh banjir dan penurunan tanah. Warga Penjaringan melaporkan ketinggian air mencapai 1,5 meter di kawasan dataran rendah saat banjir terakhir pada 5 Juli, yang melumpuhkan aktivitas masyarakat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD DKI Jakarta) telah mengintensifkan pengerahan pompa air dan tim respons darurat ke kawasan-kawasan tersebut.
Pemerintahan Gubernur Prabowo Subianto juga menegaskan kembali komitmennya terhadap Sistem Pengendalian Banjir Terpadu, yang dirancang untuk melengkapi pengerukan saluran tradisional dengan kolam retensi air canggih di kawasan Pulogebang, Jakarta Timur. Para pejabat menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam program seperti Jakarta Resilient Community Initiative, yang melatih warga dalam kesiapsiagaan menghadapi banjir dan taktik respons cepat.
Data Menunjukkan Risiko yang Kian Meningkat
Laju penurunan tanah Jakarta tetap mengkhawatirkan, dengan rata-rata 7 hingga 10 sentimeter per tahun yang tercatat di Jakarta Utara berdasarkan studi hidrologi terbaru 2025 dari Institut Teknologi Bandung. Dari sisi finansial, kerugian akibat banjir sepanjang paruh pertama 2026 telah melampaui Rp1,2 triliun (sekitar 80 juta dolar AS), dengan dampak yang tidak proporsional dirasakan oleh permukiman kumuh tempat tinggal warga miskin kota.
Para pakar keselamatan publik dalam forum tersebut menekankan bahwa koordinasi yang lebih baik antara instansi pemerintah daerah dan sektor swasta sangat krusial. Sebagai contoh, Gojek dan Tokopedia disebut sebagai calon mitra untuk sistem komunikasi cepat yang menginformasikan warga mengenai risiko banjir yang akan datang melalui aplikasi ponsel.
Kepolisian Jakarta juga mencatat bahwa panggilan darurat di kawasan yang terendam banjir melonjak 40% selama pekan-pekan dengan curah hujan paling deras tahun ini, sehingga membebani sumber daya yang tersedia. Data ini menunjukkan perlunya perluasan jaringan relawan terlatih untuk mendukung layanan darurat resmi.
Ke Depan: Strategi dan Saran bagi Warga
Para pejabat mengimbau warga untuk aktif berpartisipasi dalam program kesiapsiagaan bencana setempat dan tetap waspada saat hujan deras, terutama dari Desember hingga Maret, puncak musim banjir di kota ini. BPBD menawarkan sesi pelatihan komunitas gratis di pusat-pusat lingkungan di Tebet dan Cengkareng bulan ini, memberikan panduan praktis mengenai jalur evakuasi dan perlengkapan darurat.
Para ahli merekomendasikan pembatasan pengambilan air tanah, penggalakan pemanenan air hujan, serta penguatan tanggul banjir di kawasan rentan sebagai prioritas jangka menengah. Sementara itu, kantor Gubernur mengumumkan pembentukan satuan tugas untuk memperkuat integrasi teknologi peringatan dini banjir dengan kerangka kota pintar Jakarta pada akhir 2026.
Dengan semakin meningkatnya variabilitas iklim yang memperparah ancaman bencana alam, perpaduan antara kebijakan pemerintah, kolaborasi masyarakat, dan inovasi digital bertujuan untuk meningkatkan ketahanan Jakarta serta melindungi jutaan warga dari ancaman yang telah lama mengintai akibat kondisi geografis dan pola pertumbuhan kota.